Gejala, Penyebab, dan Cara Tepat dalam Atasi Alergi Daging Sapi

  Kamis, 11 Januari 2024 | 03:41 WIB
   Team Prosix
oktep14.1.jpg

Sumber: Freepik

Alergi makanan adalah salah satu jenis alergi yang paling umum terjadi baik di kalangan anak-anak maupun orang dewasa. Beberapa jenis alergi makanan meliputi telur, kacang-kacangan, seafood, susu sapi dan produk turunannya, hingga alergi daging sapi. 

Nah, pada artikel kali ini, kamu akan kami ajak untuk mengetahui lebih lanjut apa saja gejala dan penyebab alergi daging, serta cara mengatasinya.

Gejala Alergi Daging Sapi

Alergi daging sapi biasanya terjadi setelah seseorang mengonsumsi olahan daging sapi, kaldu sapi, atau makanan olahan lainnya yang mengandung daging sapi. Gejala yang ditimbulkan pun mungkin bisa berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Selain itu, reaksi alergi yang muncul tidak langsung terjadi secara langsung, tapi selang beberapa jam kemudian.

Hampir sama dengan gejala-gejala pada jenis alergi yang lain, orang yang punya alergi terhadap daging sapi biasanya akan menunjukkan reaksi seperti pusing, kulit gatal-gatal, bersin-bersin, hidung berair, mual muntah, diare, dan sesak napas. Ada juga yang mengalami pembengkakan pada bagian tubuh tertentu seperti wajah, lidah, bibir, hingga tenggorokan.

Jenis alergi ini tidak boleh disepelekan karena juga bisa menimbulkan gejala berat yang mengancam nyawa. Jika setelah mengonsumsi daging, kamu atau keluarga sampai kesulitan bernapas, tidak bisa menelan, mengeluarkan air liur, denyut nadi terasa cepat dan melemah, tubuh kemerahan serta terasa hangat, segera cari pertolongan medis di pelayanan kesehatan terdekat.

Penyebab Alergi Daging Sapi

Alergi Daging Sapi

Sumber: Freepik

Kondisi sistem imun pada seseorang yang punya alergi daging, menganggap bahwa protein yang ada di dalam daging sapi/daging merah sebagai zat berbahaya bagi tubuh. Secara otomatis, sistem kekebalan tubuh pun akan memproduksi zat antibodi yang bernama Immunoglobulin E guna melawan protein pada daging merah tadi. 

Perlawanan itulah yang kemudian menyebabkan orang mengalami gejala-gejala alergi seperti yang telah disebutkan di paragraf sebelumnya.

Secara spesifik, alergi daging sapi juga bisa terjadi karena adanya zat antibodi alami seperti Galactose-Alpha-1,3-Galactose atau Alpha-Gal di dalam tubuh. Perlu kamu ketahui bahwa Alpha- Gal bahkan bisa berpindah ke tubuh manusia lewat kutu Lone Star yang sebelumnya telah menggigit mamalia kemudian berpindah menggigit manusia. 

Cara Mengatasi Alergi Daging Sapi

Mengatasi Alergi Daging Sapi

Sumber: Freepik

Cara mengatasi alergi daging sapi yang paling utama yaitu mengonsumsi obat alergi yang bisa kamu dapatkan di apotek atau melalui konsultasi dokter terlebih dulu. Nah, supaya alergi ini tidak berulang lagi, usahakan untuk menghindari konsumsi daging merah dan lebih berhati-hati saat makan di luar rumah. 

Jika memasak sendiri, kamu tentu bisa memilah jenis-jenis bahan makanan yang bisa dihindari. Namun, saat makan di restoran atau warung makan, kamu tidak bisa mengontrol bahan makanan apa saja yang ada di dalam makanan yang dipesan. Oleh sebab itu, cermatlah dalam memilih makanan saat menyantap hidangan di luar rumah.

Tak hanya hidangan dengan bahan utama daging merah saja, kamu juga harus menghindari kuah yang terbuat dari kaldu sapi, serta makanan olahan yang mengandung daging sapi seperti sosis, patty daging, kornet, dan sebagainya.

Perhatikan juga komposisi utama pada label kemasan saat membeli makanan kaleng atau produk siap santap lainnya. Hal ini penting supaya kamu bisa terhindar dari kemungkinan terpapar reaksi alergi terhadap olahan daging sapi.

Kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter untuk langkah pengobatan dan pencegahan alergi daging sapi lainnya secara lebih komprehensif.

Alergi memang tak selalu membahayakan nyawa, tapi gejala yang ditimbulkan bisa sangat mengganggu keseharianmu. Oleh sebab itu, temukan obat alergi sapi yang tepat saat kamu tidak sengaja mengonsumsi makanan yang mengandung daging sapi. Namun yang paling penting, kenali betul-betul jenis alergi yang dimiliki supaya bisa menghindari pemicu atau pencetusnya di kemudian hari.