Alergi Susu Formula Muncul Dengan Tanda Ini & Cara Atasinya

  Jumat, 17 November 2023 | 07:05 WIB
   Team Prosix
ep24.1.jpg

Bagi anak-anak, minum susu formula dimulai dalam usia yang berbeda-beda. Ada yang melanjutkan susu formula setelah disapih dari ASI kurang lebih saat berusia 2 tahun. Namun ada juga yang perlu mengonsumsi susu formula sejak usia beberapa hari setelah kelahiran akibat banyak faktor. Sayangnya, data dari WebMD (2022)¹ menunjukkan terdapat 2% hingga 7,5% bayi di bawah satu tahun yang memiliki alergi susu formula, terutama dalam hal ini yang terbuat dari susu sapi. Hal ini terjadi karena protein yang ada dalam susu formula dianggap berbahaya oleh imun tubuh. Sehingga muncul beberapa reaksi alergi yang membuat bayi sakit. Perhatikan beberapa tanda alergi susu formula pada bayi di bawah 1 tahun dan cara mengatasinya.

Tanda atau Gejala Alergi Susu Formula pada Bayi

Secara garis besar, reaksi alergi susu formula akan terlihat dari adanya gangguan pencernaan, perubahan kondisi kulit, hingga gejala yang mirip dengan demam atau batuk pilek. Larissa(2023)² menjelaskan beberapa tanda alergi yang muncul beberapa hari atau minggu setelah bayi minum susu formula pertamanya.

  1. Sakit perut disertai mual dan muntah.
  2. Diare atau konstipasi, bahkan bisa buang air besar disertai darah.
  3. Mata gatal, berair, dan/atau membengkak.
  4. Biduran pada beberapa titik tubuh.
  5. Masalah pernapasan, seperti sulit bernapas, mengi, hingga batuk.

Perlu dipahami bahwa setiap bayi akan menunjukkan reaksi alergi yang berbeda. Bahkan pada satu bayi, gejalanya bisa berbeda dari satu waktu konsumsi dengan waktu berikutnya. Bila hari ini menunjukkan gejala yang ringan, ada kemungkinan gejala yang muncul akan lebih parah pada konsumsi hari berikutnya. Itulah kenapa kamu perlu mendapatkan konsultasi dokter atau ahli imunologi bila bayi mengalami beberapa reaksi alergi di atas.

Cara Mengatasi Alergi Susu Formula

Meskipun alergi susu formula dapat hilang dengan sendirinya sebelum anak berusia 3-5 tahun, namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menurunkan risiko munculnya reaksi alergi yang lebih parah atau mengancam jiwa.

1. Memeriksakan bayi ke dokter

Jika ini kali pertama bayi di bawah 1 tahun menunjukkan gejala atau tanda alergi, segeralah untuk membawanya ke dokter anak atau fasilitas kesehatan terdekat. Meskipun gejalanya ringan, bayi perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah penyebabnya karena alergi protein susu sapi atau bukan. Umumnya tindakan kesehatan yang dilakukan adalah mengambil sampel darah atau tinja dari bayi. Selain diagnosis, dokter juga akan memberikan beberapa cara untuk menangani reaksi alergi ringan yang mungkin muncul kembali.

2. Mengganti susu formula berbasis susu sapi

Cara berikutnya adalah dengan segera mengganti susu formula berbasis susu sapi dengan susu formula berbasis asam amino. Dalam susu formula asam amino, protein telah melalui proses pemecahan khusus sehingga berbentuk partikel dan menurunkan risiko memicu reaksi alergi.

Langkah ini juga berlaku saat bayi mulai dikenalkan dengan makanan padat. Hindari makanan dan minuman yang mengandung susu sapi dengan mencermati tabel komposisi yang tertera.

3. Pengobatan pada usia 2 tahun ke atas

Carolina Asthma & Allergy Center (2022)³ menjelaskan bahwa obat alergi tidak cocok untuk bayi di bawah satu tahun. Beberapa jenis obat diperbolehkan namun untuk bayi dengan usia lebih dari 6 bulan. Kebanyakan obat anti histamin baru boleh dikonsumsi saat anak berusia minimal 6 tahun atau 2 tahun. Sehingga cara ini perlu melalui konsultasi dokter atau ahli imunologi di sekitar kamu.

Cara mengatasi yang paling efektif adalah dengan mencegah terjadinya reaksi alergi muncul kembali. Orang tua dan pengasuh perlu lebih berhati-hati terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsi anak-anak, terutama bila anak mengikuti daycare. Jangan lupa juga untuk terus mendampingi anak saat mereka mulai sedih atau kesulitan menemukan makanan yang tidak menimbulkan reaksi alergi. Alergi susu formula memang belum ada obatnya, namun gejalanya masih bisa dikelola hingga alergi tersebut hilang dengan sendirinya.

Referensi:

  1. Siobhan Harris. 2022. Infant Milk Allergy, Lactose Intolerance, or Something Else?. WebMD. Diakses pada 13 Oktober 2023 dari https://www.webmd.com/parenting/baby/milk-allergy-vs-lactose-intolerance
  2. Larissa Hirsch. 2023. Milk Allergy in Infants. Diakses pada 13 Oktober 2023 dari https://kidshealth.org/en/parents/milk-allergy.html
  3. Carolina Asthma & Allergy Center. 2022. Allergy Medication for Toddlers & Children. Diakses pada 18 Oktober 2023 dari https://www.carolinaasthma.com/blog/allergy-medication-children/#.